Sunday, December 16, 2007

Peran Media Suporter

Seiring dengan meningkatnya kemajuan teknologi dan derasnya informasi yang kita peroleh setiap hari, membuat seluruh insan di jagad raya ini berlomba-lomba untuk bisa secepat mungkin mendapat berbagai “pengetahuan” yang telah dan sedang terjadi. Tak terkecuali para pecinta bola tanah air, khususnya pengagum klub-klub bola di Jateng dan DIY. Kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia XIII yang sebentar lagi bergulir, tidak hanya membuat klub-klub Jateng-DIY semakin serius “berbenah”, namun juga meningkatkan tensi persaingan “pemain ke-12″ mereka, yaitu para pendukung fanatiknya, untuk bisa all out memberikan support kepada tim kesayangan. Tradisi dan budaya Jawa yang selalu mengedepankan sopan santun dan keramahan seakan dipaksa “lenyap sesaat” oleh gengsi antar daerah. Beberapa peristiwa yang telah terjadi di blantika suporter sepakbola Jateng-DIY, membuat kita sebagai salah satu elemen yang “berpengaruh” dan bermartabat, mau tidak mau harus berupaya sekuat tenaga, pikiran dan biaya, untuk bisa meningkatkan pamor Jateng_DIY sebagai kiblat suporter sepakbola nasional. Salah satu jalur untuk “menaikkan” image suporter adalah adanya media suporter masing-masing daerah. Pendekatan melalui media massa dan elektronik saat ini sudah bukan menjadi cara “langka” bagi kelompok suporter untuk bisa terlihat eksis dan menambah “bobot” mereka. Semakin maraknya kelompok suporter Jateng-DIY yang merilis eksistensi mereka dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi seperti ; meluncurkan website resmi komunitas mereka, membuat grup band dan memasarkan albumnya, dan lain-lain, patut kita acungi jempol. Bukti bahwa kreativitas mereka tidak hanya di pinggir lapangan. Sebagai contoh, langkah rekan-rekan Slemania yang “menelorkan” ide mereka yang “melahirkan” website resmi Slemania di www.slemania.or.id , memancing semangat beberapa komunitas suporter lain di Jateng-DIY, untuk menirunya. Meskipun sebelumnya mungkin ada beberapa kelompok suporter lain yang telah “mendahului”, namun tidak se-eksis Slemania. Lahir kemudian www.pasoepati.org (Pasoepati Solo), www.panserbiru.com (Panser Biru Semarang), www.paserbumi.com (Paserbumi Bantul), www,brajamusti.org (Brajamusti Jogjakarta) dan lain-lain. Pantas jika Slemania menyandang gelar Suporter Terbaik 2005 versi salah satu stasiun Televisi Swasta tanah air, dan sedikit berbangga setelah masuk dalam daftar 100 situs terbaik di Indonesia. Banyak pelajaran berharga yang kita peroleh melalui media suporter yang satu ini. Terbukti, dengan hadirnya “jalur” tersebut, mampu meminimalisir gesekan antar suporter wilayah Jateng-DIY. Dan yang tak kalah penting, media teknologi internet sebagai wadah pembelajaran bagi suporter untuk bisa meningkatkan “kapasitas” mereka tentang teknologi informasi, dengan harapan, mampu menunjukkan kesan bahwa suporter Jateng-DIY bukan kumpulan orang-orang yang gaptek alias gagap teknologi. Semoga dengan seringnya kita semua berkomunikasi dan berinteraksi, hal-hal yang selama ini dianggap sebagai “hambatan”, sedikit demi sedikit bisa terselesaikan. Pepatah mengatakan, “Ibarat padi, semakin berisi, semakin merunduk”. Semakin banyak akal dan pikiran kita menerima hal-hal yang positif, semakin kita jauh dari tindakan-tindakan yang merugikan persepakbolaan Jateng-DIY khususnya, dan Indonesia umumnya. Hormat saya, M.Fajar Adhy N (Ketua Umum Pasoepati Cyber Indonesia) Seiring dengan meningkatnya kemajuan teknologi dan derasnya informasi yang kita peroleh setiap hari, membuat seluruh insan di jagad raya ini berlomba-lomba untuk bisa secepat mungkin mendapat berbagai “pengetahuan” yang telah dan sedang terjadi. Tak terkecuali para pecinta bola tanah air, khususnya pengagum klub-klub bola di Jateng dan DIY. Kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia XIII yang sebentar lagi bergulir, tidak hanya membuat klub-klub Jateng-DIY semakin serius “berbenah”, namun juga meningkatkan tensi persaingan “pemain ke-12″ mereka, yaitu para pendukung fanatiknya, untuk bisa all out memberikan support kepada tim kesayangan. Tradisi dan budaya Jawa yang selalu mengedepankan sopan santun dan keramahan seakan dipaksa “lenyap sesaat” oleh gengsi antar daerah. Beberapa peristiwa yang telah terjadi di blantika suporter sepakbola Jateng-DIY, membuat kita sebagai salah satu elemen yang “berpengaruh” dan bermartabat, mau tidak mau harus berupaya sekuat tenaga, pikiran dan biaya, untuk bisa meningkatkan pamor Jateng_DIY sebagai kiblat suporter sepakbola nasional. Salah satu jalur untuk “menaikkan” image suporter adalah adanya media suporter masing-masing daerah. Pendekatan melalui media massa dan elektronik saat ini sudah bukan menjadi cara “langka” bagi kelompok suporter untuk bisa terlihat eksis dan menambah “bobot” mereka. Semakin maraknya kelompok suporter Jateng-DIY yang merilis eksistensi mereka dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi seperti ; meluncurkan website resmi komunitas mereka, membuat grup band dan memasarkan albumnya, dan lain-lain, patut kita acungi jempol. Bukti bahwa kreativitas mereka tidak hanya di pinggir lapangan. Sebagai contoh, langkah rekan-rekan Slemania yang “menelorkan” ide mereka yang “melahirkan” website resmi Slemania di www.slemania.or.id , memancing semangat beberapa komunitas suporter lain di Jateng-DIY, untuk menirunya. Meskipun sebelumnya mungkin ada beberapa kelompok suporter lain yang telah “mendahului”, namun tidak se-eksis Slemania. Lahir kemudian www.pasoepati.org (Pasoepati Solo), www.panserbiru.com (Panser Biru Semarang), www.paserbumi.com (Paserbumi Bantul), www,brajamusti.org (Brajamusti Jogjakarta) dan lain-lain. Pantas jika Slemania menyandang gelar Suporter Terbaik 2005 versi salah satu stasiun Televisi Swasta tanah air, dan sedikit berbangga setelah masuk dalam daftar 100 situs terbaik di Indonesia. Banyak pelajaran berharga yang kita peroleh melalui media suporter yang satu ini. Terbukti, dengan hadirnya “jalur” tersebut, mampu meminimalisir gesekan antar suporter wilayah Jateng-DIY. Dan yang tak kalah penting, media teknologi internet sebagai wadah pembelajaran bagi suporter untuk bisa meningkatkan “kapasitas” mereka tentang teknologi informasi, dengan harapan, mampu menunjukkan kesan bahwa suporter Jateng-DIY bukan kumpulan orang-orang yang gaptek alias gagap teknologi. Semoga dengan seringnya kita semua berkomunikasi dan berinteraksi, hal-hal yang selama ini dianggap sebagai “hambatan”, sedikit demi sedikit bisa terselesaikan. Pepatah mengatakan, “Ibarat padi, semakin berisi, semakin merunduk”. Semakin banyak akal dan pikiran kita menerima hal-hal yang positif, semakin kita jauh dari tindakan-tindakan yang merugikan persepakbolaan Jateng-DIY khususnya, dan Indonesia umumnya. Hormat saya, M.Fajar Adhy N (Ketua Umum Pasoepati Cyber Indonesia)
Posted by dhy in 05:08:21 | Permalink | No Comments »

Friday, December 14, 2007

Waspada Wamena, Agung Prasetyo Malah Cedera.

Bukan main persiapan Persiwa Wamena menjelang laga melawan tuan rumah Persis Solo. Menu latihan dan sparing partner yang terus menerus dilakukan seolah tiada henti. Hampir seminggu mereka ada di Bumi Bengawan. Selain latihan rutin pagi dan sore, mereka juga sempat menjajal kemampuan klub anggota PERSIS, AT Farmasi, sore lalu. Meski hasil yang di dapat dalam uji coba tersebut berkesudahan 1-1, tapi “allenatore” Persiwa Djoko Malis Mustofa mengaku puas. “Ini kan hanya uji coba, saya cuma menghindari cedera pemain jika harus bermain maksimal. Kami sudah mulai beradaptasi dengan cuaca di Solo. Semoga anak-anak bisa tampil lebih all out selasa nanti.”, ujar Djoko Malis. Keadaan 180 derajat, justru menimpa kondisi Skuad Samber Nyawa. Belum lagi kabar Greg yang masih di bekap cedera, dalam session latihan kemarin Kiper Agung Prasetyo harus “terkapar” karena otot pahanya tertarik saat menendang bola. Agung pun sempat kesulitan untuk berdiri dan harus di gotong oleh rekan-rekannya. Dengan ini, hanya Didik TY yang akan menjadi pelapis Wahyu Tri Nugroho saat di bawah mistar.
Posted by dhy in 18:48:48 | Permalink | No Comments »

Sunday, December 9, 2007

Kejutan di BonTang

Skuad Samber Nyawa akhirnya membayar lunas penampilan buruknya ketika di hempaskan Persiba Balikpapan, 4 Desember 2007 lalu, dengan menenggelamkan tuan rumah Laskar Bukit Tursina PKT Bontang 0-2 pada lanjutan Liga Djarum Indonesia Wilayah Timur, Minggu malam 9 Desember 2007 di stadion Mulawarman, Bontang.

Wahyu Wijiastanto membuka gol 5 menit setelah turun minum, melalui heading memanfaatkan bola hasil tendangan bebas Nurcholis Madjid. 8 menit kemudian, gantian striker TIMNAS PSSI Rudy “GOL” Widodo menggetarkan jala PKT setelah menerima umpan sepak pojok dari Nurcholis Madjid.

Dengan hasil ini, PERSIS SOLO naik satu strip ke posisi 11 Wilayah Timur dengan mengemas 41 poin, menggeser Persma Manado karena menang selisih gol, setelah sehari sebelumnya Laskar Badai Biru ditahan imbang oleh tamunya “Singo Edan” Arema Malang. (Adhy,cyb)

Posted by dhy in 18:37:59 | Permalink | No Comments »

Friday, December 7, 2007

Semakin Berat Jika Kalah Lagi

uhhh…. jika sampe kalah lagi… pupus harapan The Laskar Samber Nyawa untuk turut serta dalam Super Liga 2008.

Ayo Greg…… Kami haus akan GoL mu…

5 Laga sisa harus bisa diraih maksimal.

Rebut 15 poin !!!

gak ada kata “Menyerah” lagi yang akan ku dengar dan kulihat dari KAMU !!

Bantai… Bantai lah Musuhmu…..

Posted by dhy in 17:18:03 | Permalink | No Comments »

Saturday, December 1, 2007

Pasoepati Desak Jokowi

Solo (Espos) - Presiden kelompok suporter pendukung Persis (Pasoepati), Satryo Hadinagoro berharap Walikota Joko Widodo merealisasikan janji untuk menganggarkan dana bagi Persis Solo pada musim kompetisi 2008.
Satryo berharap Persis tetap eksis, karena berdasarkan aspek historis, Laskar Sambernyawa merupakan salah satu perintis sepakbola Indonesia.
Sementara itu manajer Persis, Waseso menyatakan jika memang tidak ada anggaran bagi Laskar Sambernyawa untuk musim depan, tim asal Solo ini seharusnya dijual, karena era sepakbola Indonesia ke depan menitikberatkan profesionalisme “Istilah saya bukan dijual, tetapi dikerjasamakan dengan pihak lain. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah Persis sudah layak dijual?”
Waseso mendukung konsep Superliga yang diusung PSSI, karena klub yang berpartisipasi dalam kompetisi adalah mereka yang benar-benar mampu, terutama dalam pendanaan.
“Sekarang ini kalau dikatakan semipro saja tidak masuk karena klub-klub bola khususnya perserikatan, masih bergantung kepada APBD. Dan hal ini menjadi masalah karena klub sepakbola tidak boleh menggunakan dana APBD yang membuat mayoritas klub perserikatan kelimpungan,” katanya.
Dipertahankan
Pada bagian lain, Satryo saat dikonfirmasi Espos, Kamis (29/11), mengungkapkan harapan agar Persis tetap dipertahankan eksistensinya, menyusul pernyataan Ketua Umum Persis sekaligus Wakil Walikota FX Hadi Rudyatmo yang menyebutkan bahwa tidak ada alokasi anggaran untuk Persis dalam kebijakan umum anggaran (KUA) serta prioritas dan plafon anggaran sementara (PPAS) dalam rancangan APBD 2008 yang saat ini tengah dibahas di DPRD.
“Saya memang belum mendengar langsung dari Wawali, tetapi kalau memang demikian, hal itu harus dijelaskan kepada masyarakat. Karena dalam pertemuan Walikota dengan Pasoepati di Pagelaran (Keraton Solo-red) beberapa waktu lalu, Walikota justru menegaskan bahwa Pemkot tetap akan menganggarkan dana untuk Persis,” kata Satryo via telepon genggamnya.
“Masalah Persis ini sebetulnya dikembalikan kepada kepala daerah. Sebab, Solo menjadi terkenal kan salah satunya karena keberadaan Persis,” lanjutnya.
Dalam pertemuan dengan manajemen Persis di Loji Gandrung belum lama ini, Walikota juga mengatakan dana APBD yang dipunyai Kota Solo tidak mungkin digunakan bagi Persis. Hal itu disebabkan belum adanya regulasi yang mengatur tentang penggunaan APBD bagi klub-klub sepakbola.
“Kami sudah mempunyai empat opsi untuk mencarikan solusi bagi Persis. Namun, untuk saat ini kami belum bisa menyampaikan, karena masih dalam proses lebih lanjut. Di sini yang terpenting adalah berusaha agar Persis Solo masih tetap eksis. Kan lucu, wong Solo itu punya stadion megah, namun klub saja tidak punya,” jelasnya. (SOLOPOS [9/11]).
Dibiayai APBD
Satryo yang juga anggota legislatif tersebut mengungkapkan Laskar Sambernyawa tetap bisa dibiayai oleh APBD, sesuai Permendagri No 59 tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.
“Dalam Permendagri yang baru itu kan memungkinkan bagi klub sepakbola seperti Persis mendapatkan dana APBD lewat SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah-red). Nah kalau mengenai besarannya, itu kan tergantung dengan kemampuan daerah yang bersangkutan,” jelasnya.
Sebelum keluar Permendagri No 59/2007, sepakbola memang tidak boleh dibiayai oleh APBD sesuai dengan Permendagri No 13/2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dan Permendagri No 26/2006 tentang Pedoman Penyusunan APBD 2007.
Dalam Permendagri tersebut, dana sepakbola kemungkinan bisa dicarikan melalui belanja hibah yang mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah, rasionalitas dan ditetapkan dengan keputusan kepala daerah. - ono

Posted by dhy in 19:18:40 | Permalink | No Comments »